Pendekatan
Medik, Biopsikologi, dan Psikofarmakologi
Seorang neurolog-psikiater yang sangat percaya pada orientasi biologis akan
mengatakan: pendekatan medis tidak mengenal gangguan atau penyakit jiwa, yang
ada ialah “penyakit otak”.
Pinel (dalam Carlson, 1992) memperkenalkan bidang kajian yang dinamakan
Biopsikologi. Bidang ini mengkaji dasar-dasar biologis perilaku.
Biopsikologi sendiri terdiri dari lima kajian yang lebih khusus, yaitu:
psikologi faal, psikofarmakologi, neuropsikologi, psikofisiologi, dan psikologi
komparatif. Psikologi faal (physiological
psychology) membahas dan memanipulasi sistem saraf melalui pembedahan,
pelistrikan dan cara kimiawi dalam setting
eksperimental, di mana subjek yang diteliti adalah hewan.
Psikofarmakologi mempelajari efek obat pada perilaku manusia dan bagaimana efek ini terjadi
melalui perubaha aktivitas neural (Saraf). Psikofarmakologi mempelajari
obat-obat khusus yang dinamakan obat-obat psikotropik – obat yang efeknya pada
otak, yang memiliki dampak terapeutik langsung pada proses mental (Maramis,
1994)
Neuropsikologi adalah kajian tentang ‘behavior deficits’
yang diakibatkan oleh kerusakan otak manusia. Dibandingkan dengan bidang
kajian yang lain, neuropsikologi adalah yang paling aplikatif.
Psikofisiologi hampir sama dengan psikologi faal, namun lebih merupakan kajian
non-eksperimental dan tidak selalu membahas hewan.
Psikologi Komparatif, mempelajari perbandingan fungsi dan struktur otak pada manusia deasa,
anak, dan kadang-kadang hewan tingkat tinggi hingga tingkat rendah.
Neuron,
Synaps dan Neutransmitter
Fungsi-fungsi psikis seperti sensasi, persepsi, dan lain-lain terjadi
karena hubungan antarneuron. Neuron awal menghantarkan listrik yang kemudian
disusul dengan peristiwa kimiawi pada synaps, yakni hubungan antara neuron
pertama dengan neuron berikutnya. Selanjutnya peristiwa kimia itu diubah lagi
menjadi hantaran listrik oleh neuron berikutnya, dan seterusnya, sampai terjadi
persepsi dan perilaku.
Bagian dari neuron atau sel saraf yang dinamakan akson. Akson berfungsi
mengalirkan impuls saraf (listrik) ke
sel saraf lainnya atau ke otot. Bagian neuron yang menerima informasi dari
neuron sebelumnya disebut dendrit. Dendrit meneruskan informasi ke akson lalu
ke neuron berikutnya. Yang dinamakan impuls saraf adalah peristiwa listrik yang
bergerak sepanjang akson yang berlangsung singkat. Rongga synaps (synaptic cleft) atau synaps, hubungan
antara dua neuron adalah tempat terjadinya peristiwa kimiawi yang dibawa oleh bouton. Bouton adalah neuron prasynaps
atau gelembung-gelembung pada ujung akson dari neuron penyalur rangsang. Bouton
inilah yang membawa neurotransmitter zat kimia yang berfungsi untuk meneruskan
informasi antara neuron satu ke neuron lainnya yang dikeluarkan ke rongga synaps
bila ada impuls saraf yang sampai ke titik itu (Morgan, 1986). Neurotransmitter
yang keluar akan bergabung dengan molekul-molekul resepstor khusus yang berada
di daerah neuron penerima rangsang. Dampak dari neurotransmitter pada neuron
penerima dapat berupa aktivasi (mencetuskan impuls saraf) atau inhibisi
(menghambat impuls saraf).
Berikut adalah langkah dalam transmisi kimiawi (chemical transmission) informasi dari satu neuron ke neuron lain. Pertama, neuron prasynaps atau neuron
penyalur memproduksi atau mensintesis molekul neurotransmitter dari molekul
yang lebih sederhana yang berasal dari makanan yang masuk atau sumber-sumber
lain. Kedua, neurotransmitter yang
telah dibuat tadi, disimpan dalam bouton dari sebuah neuron pengirim (neuron transmitter). Impuls saraf yang
mencapai bouton memulai (initiates)
suatu proses yang menyebabkan beberapa gelembung bergerak ke rongga synaps di
mana kemudian neurotransmitter itu dilepaskan/dikeluarkan. Ketiga, neurotransmitter itu menyebar dengan cepat di sepanjang
rongga synaps, lalu bergabung dengan molekul reseptor khusus yang ada pada
membran dari neuron penerima atau
neuron pascasynaps (postsynaptic neuron).
Kombinasi dari neurotransmitter dan reseptor memulai perubahan pada neuron
penerima yang menimbulkan perangsangan atau inhibisi tergantung pada jenis
transmitter dan jenis reseptor. Keempat, neurotransmitter
yang telah bergabung tadi dideaktivasikan secara cepat seperti halnya kelebihan
neurotransmitter pada rongga synaps agar sel pasca synaps siap menerima
informasi baru.
Beberapa neurotransmitter menurut Morgan (1986) adalah : acethylcholine,
dopamine, norepinephrine, serotonin (5-hydroxystriptamine), GABA (gamma-amino
butyric acid), glysine, glutamic acid, dan neuropeptida (a.l.endorphin), EAA
(excitory amino acids) dan opioids (Olson, 1993). Jenis neurotransmitter yang
diproduksi dan jenis reseptor menentukan reaksi pada neuron penerima eksitasi (perangsangan), aktivasi (pengaktifan),
inhibisi (penekanan), atau dekativasi (penghentian aktivitas) (Morgan 1986).
Obat-obat psikotropika atau zat psikoaktif adalah obat-obat yang mempengaruhi
kerja neurotransmitter mempengaruhi kerja susunan saraf dengan mempengaruhi
alur informasi melalui synaps,
mempengaruhi pada tahapan lain selain synaps, atau mempengaruhi fungsi yang ada
(Olson, 1993).
Tabel 5.1 Nama dan Lokasi
Neurotransmitter (Morgan et. al., 1986)
|
Nama
|
Lokasi
|
|
Acetylcholine
(Ach)
|
Sistem
saraf dan banyak neuromuscular
junctions.
|
|
Dopamine
(DA)
|
Sistem
saraf
|
|
Ephinephrine
(E) (Adrenalin)
|
Terutama
pada beberapaneuromuscular junctions, di
beberapa sistem kelenjar adrenal
|
|
Norephinephine
(NE) (Noraderenalin)
|
Terutama
pada beberapa neuromuscular junctions, di
beberapa sistem kelenjar adrenal
|
|
Serotonin
or 5-hydroxytriptamine (5-HT)
|
Sistem
saraf
|
|
Gamma-aminobutyric
acid (GABA)
|
Sistem
saraf
|
|
Glycine
(Gly)
|
Sistem
saraf
|
|
Glutamic
acid
|
Sistem
saraf
|
|
Neuropeptides
(tidak semua)
Enkephalin
Endorphin
Vasopression
Oxytocin
|
Sistem
saraf
Sistem
saraf
Sistem
saraf dan kelenjar ludah
Sistem
saraf dan kelenjar ludah
|
Penyakit
Jiwa, Neurotransmisi, dan Penggunaan Obat-obat Psikotropik
Menurut Olson (1993) penyakit atau gangguan jiwa adalah penyakit
neurotransmisi atau penyaluran listrik kimiawi listrik antarneuron. Ia
membedakannya ke dalam dua kelompok berdasarkan peristiwa yang menyebabkannya. Pertama, karena terlalu banyak
neurotransmisi. kedua, terlalu
sedikit neurotransmisi karena terlalu sedikitnya NT yang diikat oleh reseptor
pascasinaps (postsynaptic receptor).
Penyakit atau gangguan jiwa karena terlalu banyaknya neurotransmisi dapat
disebabkan oleh dua hal. Pertama, neuron
terlalu mudah terangsang (hyperexcitable).
Kedua, terlalu banyaknya molekul neurotransmiter pada reseptor pascasinaps
(postsynaptic receptor).
Obat psikotropika adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan
saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan perilaku.
Obat psikotropika biasanya digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik. Obat
narkotika adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat dan
mempunyai efek utama terhadap penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Obat narkotika biasanya
digunakan untuk analgesik (anti rasa sakit), antitusif (mengurangi batuk),
antipasmodik (mengurangi rasa mulas atau mual) dan pramedikasi anestesi dalam
praktik kedokteran (Maslim R, 1999).
Aa beberapa hal yang mungkin terjadi yang berkaitan dengan penggunaan obat
psikotropika yang diberikan oleh dokter:
v Ada kalanya pasien mengurangi dosis yang dianjurkan dengan alasan terganggu
oleh rasa kantuk yang disebabkan otak.
v Pemberian obat psikotropika haruslah sesuai dengan dosis tertentu dan
memperhatikan efek samping yang mungkin terjadi.
v Beberapa pasien atau keluarga pasien sangat percaya pada obat sehingga
melalaikan psikoterapi.
v Beberapa psien lain tidak mengkonsumsi obat psikotropika karena takut akan
mengalami ketergantungan.
Gejala Sasaran (Target Symptoms) dalam Pengobatan
Gangguan Jiwa
Berikut adalah beberapa gejala sasaran untuk beberapa
gangguan jiwa.
Gangguan Depresi
1.
Simtom neurovegetatif (tidur,
nafsu makan, dan lain-lain)
2.
Simtom psikomotor (ekspresi
wajah, tangan, tubuh secara keseluruhan),
3.
Perubahan suasana hati (dari
depresi menjadi irritable)
4.
Perubahan konsentrasi, atensi
dan memori
5.
Pikiran depresif, rasa
bersalah, ruminasi (terus menerus mengingat hal-hal tak enak dari masa lalu),
kognisi yang terdistorsi
6.
Simtom psikotik
Semua simtom ini menyebabkan
kelemahan sosial (social impairment).
Menurut penelitian, simtom yang paling cepat efek intervensinya adalah simtom
neurovegetatif 10 sampai 14 hari. Untuk simtom psikomotor, dengan dosis yang
tepat, perubahan dapat terjadi dalam 7 sampai 14 hari.
Gangguan Mania
1. Kegiatan psikomotor yang tinggi (yang harus dikurangi)
2. Pressure of speech, yaitu bicara cepat, mengalir dan penuh semangat, yang sulit dihentikan
3. Kurang tidur
Gangguan Psikosis
Gejala sasaran pada gangguan
psikosis berhubungan dengan gejala/simtom arousal, afek, aktivitas psikomotor,
pikiran (formal dan isi), dan penyesuaian sosial.
Simtom arousal ditandai oleh agitasi,
insomnia, kecemasan, excitement,
confusion, kewaspadaan (vigilance) dan
disorientasi. Simtom-simtom sasaran ini dapat hilang dalam waktu 3 sampai 5
hari.
Tabel 5.2 Daftar dan Dosis Obat Antidepresi
|
Antidepresi
|
Dosis yang biasa diberikan
(mg/d)
|
|
Heterocyclics
·
Impramine
·
Amitriplyline
·
Desipramine
·
Nortriptyline
·
Doxepin
·
Protriptyline
·
Trimipramine
·
Clomipramine
·
Marprotiline
Monoamine Oxidase Inhibitors
·
Phenelzine
·
Isocarboxizid
·
Tranylcypromine
Miscellaneous
·
Amoxiphine
·
Trazodone
·
Bupropion
·
Fluoxetine
Mood Stabilizeers
·
Carbamazepine
·
Lithium carbonate
·
Valproic acid
|
150-300
150-300
150-300
50-150
150-300
15-60
150-300
75-400
150-200
45-90
30-60
30-50
150-450
150-300
200-450
10-40
600-1200
600-2400
750-300
|
Tabel 5.3 Efek Samping Obat Antidepresi
|
Nama Efek
|
Efek yang terjadi
|
|
Efek Anticholinergic
|
Mulut kering, penglihatan buram, sukar buang air besar (constipation), keraguan buang air
kecil (ueibary hesitancy), keadaan
bingung karena keracunan (toxic
confusional state)
|
|
Efek
Antihistamin
|
Ngantuk (sedation)
|
|
Aktivasi
Serotonergic
|
Ngantuk (sedation)
|
|
Aktivasi
Adrenergic
|
Tremor, keterangsangan (excitement),
gemetaran (palpitation), bila
tegak tekanan darah rendah (orthostatic
hypotension), berat tubuh naik
|
Simtom afektif meliputi agresivitas,
kecemasan, depresi, membual (grandioustry),
hostilitas, iritabilitas, negativisme,
kecendrungan bunuh diri. Simtom afektif ada yang bertumpang tindih dengan
simtom arousal dan dapat membaik dalam 1 sampai 3 minggu.
Gangguan motorik yang sifatnya tingkah laku agitasi akan cepat
hilang, namun katatonia, hiperaktivitas, stereotyping, mannerism sukar hilang.
Tabel 5.4 Daftar dan Dosis Obat Antipsikotik/Neuroleptik
|
Nama Obat
|
Ekuivalen
Chlorpromazine
|
Penggunaan
(mg)
|
|
Phenothiazines
·
Chlorpromazine
·
Thioridazine
·
Mesoridazine
·
Trifluperazine
·
Perphonazine
·
Fluphenazine
Thloxanthenes
·
Thiotixene
·
Chroprorhixene
Butyrophenones
·
Haloperidol
Olbenzoxazeplnes
·
Loxapine
·
Clozapine
Dihydroindolone
·
Molindone
Depot
·
Fluphenazine decanoate/month
·
Haloperidol decanoate/month
|
1
1
2
36
11
85
19
2
62
7
1-2
10
|
100-1000
100-800
50-400
5-60
8-64
2-60
2-120
100-600
2-100
20-160
50-900
20-200
12.5-25
50-200
|
Tabel 5.5 Efek Samping Obat Antipsikotik/Neuroleptik
|
Nama Efek
|
Efek yang Terjadi
|
|
Anticholinergic effects
|
Mulut kering, sulit buang air kecil dan besar, penglihatan buram, keadaan
bingung karena keracunan (toxic
confusional state)
|
|
Alpha-adrenergic blockade
|
Orthostatic hypotension, impotensi, gagal ejakulasi
|
|
Dopaminergic blockade
|
Sindrom extrapyramidal,
galactorrhea amenonrrhea, imptinsi, tardive
dykinesia, berat tubuh naik.
|
|
Antihistamine effects
|
Ngantuk (sedation)
|
Gangguan Cemas
Gejala dan sindrom sasaran
dari gangguan cemas adalah pengalaman subjektif yang diandai oleh
keresahan/kekhawatiran (worry,
apprehensive expectation, ancitipatory anxiety) juga ketegangan motorik,
hiperaktivitas autonomik dan kewaspadaan (vigilance).
Gangguan cemas spesifik terdiri dari gangguan cemas umum,
gangguan panik, fobia sederhana dan fobia sosial, serta gangguan obsesif
kompulsif (obsessive compulsive
disorder/OCD). Gangguan cemas umum merespons terhadap obat anticemas
kelompok benzodiazepam.
Gangguan panik merespons terhadap kelompok heterocyclics (imipramine) dan monoamineoxidase
inhibitor (a.l. phenelzine) dan
kelompok benzodiazepine (a.l. alprazolan). Simtom sasaran pada
gangguan panik antara lain pengalaman subyektif bahwa dia akan mati, mendapat
serangan jantung. Simtom lain adalah perangsangan autonomik. Misalnya tachycardia (detak jantung menjadi
cepat), napas cepat (tachipnea), dan tremor.
Fobia sederhana dan fobia sosial kadang-kadang mirip agoraphobia (takut di tempat terbuka),
kadang mirip gangguan performance. Yang
tipikal ialah demam panggung. Simtom gangguan ini merespons terhadap beta-blocker (propanol) untuk menurunkan
autonomic-arousal.
Obsessive compulsive
disorder merespons terhadap kelompok heterocyclic clomipramine dan fluoxetine
setelah beberapa minggu hingga bilan kedua. Dianjurkan bahwa untuk gangguan
cemas juga dilakukan terapi tingkah laku antara lain exposure, cognitive behavior therapy.
Tabel 5.6. Daftar Obat Anticemas dan Dosisnya
|
Antideprest
|
Dosis yang diberikan (mg/d)
|
|
Benzodiazepines
·
Chlordiazepoxide
·
Diazepam
·
Chlorzepare
·
Halazepam
·
Prazepam
·
Lorazepam
·
Oxazepam
·
Alprazolam
Barbiturates
·
Amobarbital
·
Pentobarbital
·
Phenobarbital
Beta-blockers
·
Propanolol
·
Atenoid
Antihistamines
·
Hydroxyzines
·
Diphendyraminre
|
15-200
6-40
15-60
60-160
20-60
1-6
45-120
1-6
60-150
90-120
30-120
60-240
50-100
75-400
50-300
|
Efek Samping Obat Psikotropika
Efek samping obat psikotropika bermacam-macam, antara
lain terjadinya hipotensi ortostatik yakni tekanan darah turun ketika seorang
dalam potensi berdiri. Ada juga efek samping berupa gejala neurologik, seperti
tremor (gemetar), parkinsonisme (gejala penyakit parkinson, yakni langkah
kecil-kecil, posisi badan kaku).
Dyskinensia (gangguan pengendalian gerakan) antara lain pada gerakan
mata, lidah (sering keluar tidak terkendali), sukar menelan.
Efek samping lain adalah gangguan autonomik vegetatif
atau hormonal, seperti meengantuk, lelah, mulut kering tachycardia (detak jantung menjadi cepat) sukar kencing, konstipasi
(sukar buang air besar), gangguan menstruasi, perasaan mabuk, penurunan potensi
seks. Ada juga efek samping berupa gejala psikiatrik, misalnya menjadi
hipomanik (gembira berlebihan), atau terjadinya sindroma otak organik akut.
Efek samping lainnya ialah: alergi, berat badan naik, dan ikterus (badan
menjadi kuning) (Maramis, 1994)
Pengelompokkan Obat Psikotropika
Maramis mengelompokkan obat psikotropik dalam 4 kelompok:
1. Penenang (tranquilizer). Kelompok
obat ini mempunyai efek anticemas, antitegang, dan antiagitasi.
2. Neuroleptik (melumpuhkan saraf). Dulu ini dinamakan major tranquilizers. Memiliki efek antischizophrenia, anti-psikosa,
dan juga anti-cemas, anti-tegang dan antiagitasi.
3. Anti-depresan. Terdiri dari dua kelompok, kelompok timoleptika dan thimeretika. Kelompok
pertama menurunkan depresi dan juga menimbulkan efek anti-cemas, anti-tegang
dan anti-agitasi. Kelompok kedua mengurangi depresi dan mengaktivasi dan
menghilangkan hambatan.
4. Psikomimetika (meniru psikosis). Efek yang ditimbulkan adalah gejala
psikotik yang reversibel. Contohnya, LSD dan Mescalin.
terima kasih sudah berbagi informasi!
BalasHapus