Translate

Jumat, 01 November 2013

Psikofarmakologi

Pendekatan Medik, Biopsikologi, dan Psikofarmakologi

Seorang neurolog-psikiater yang sangat percaya pada orientasi biologis akan mengatakan: pendekatan medis tidak mengenal gangguan atau penyakit jiwa, yang ada ialah “penyakit otak”.
Pinel (dalam Carlson, 1992) memperkenalkan bidang kajian yang dinamakan Biopsikologi. Bidang ini mengkaji dasar-dasar biologis perilaku.
Biopsikologi sendiri terdiri dari lima kajian yang lebih khusus, yaitu: psikologi faal, psikofarmakologi, neuropsikologi, psikofisiologi, dan psikologi komparatif. Psikologi faal (physiological psychology) membahas dan memanipulasi sistem saraf melalui pembedahan, pelistrikan dan cara kimiawi dalam setting eksperimental, di mana subjek yang diteliti adalah hewan.
Psikofarmakologi mempelajari efek obat pada perilaku manusia dan bagaimana efek ini terjadi melalui perubaha aktivitas neural (Saraf). Psikofarmakologi mempelajari obat-obat khusus yang dinamakan obat-obat psikotropik – obat yang efeknya pada otak, yang memiliki dampak terapeutik langsung pada proses mental (Maramis, 1994)
Neuropsikologi adalah kajian tentang ‘behavior deficits’ yang diakibatkan oleh kerusakan otak manusia. Dibandingkan dengan bidang kajian yang lain, neuropsikologi adalah yang paling aplikatif.
Psikofisiologi hampir sama dengan psikologi faal, namun lebih merupakan kajian non-eksperimental dan tidak selalu membahas hewan.
Psikologi Komparatif, mempelajari perbandingan fungsi dan struktur otak pada manusia deasa, anak, dan kadang-kadang hewan tingkat tinggi hingga tingkat rendah.

Neuron, Synaps dan Neutransmitter

Fungsi-fungsi psikis seperti sensasi, persepsi, dan lain-lain terjadi karena hubungan antarneuron. Neuron awal menghantarkan listrik yang kemudian disusul dengan peristiwa kimiawi pada synaps, yakni hubungan antara neuron pertama dengan neuron berikutnya. Selanjutnya peristiwa kimia itu diubah lagi menjadi hantaran listrik oleh neuron berikutnya, dan seterusnya, sampai terjadi persepsi dan perilaku.
Bagian dari neuron atau sel saraf yang dinamakan akson. Akson berfungsi mengalirkan impuls saraf  (listrik) ke sel saraf lainnya atau ke otot. Bagian neuron yang menerima informasi dari neuron sebelumnya disebut dendrit. Dendrit meneruskan informasi ke akson lalu ke neuron berikutnya. Yang dinamakan impuls saraf adalah peristiwa listrik yang bergerak sepanjang akson yang berlangsung singkat. Rongga synaps (synaptic cleft) atau synaps, hubungan antara dua neuron adalah tempat terjadinya peristiwa kimiawi yang dibawa oleh bouton. Bouton adalah neuron prasynaps atau gelembung-gelembung pada ujung akson dari neuron penyalur rangsang. Bouton inilah yang membawa neurotransmitter zat kimia yang berfungsi untuk meneruskan informasi antara neuron satu ke neuron lainnya yang dikeluarkan ke rongga synaps bila ada impuls saraf yang sampai ke titik itu (Morgan, 1986). Neurotransmitter yang keluar akan bergabung dengan molekul-molekul resepstor khusus yang berada di daerah neuron penerima rangsang. Dampak dari neurotransmitter pada neuron penerima dapat berupa aktivasi (mencetuskan impuls saraf) atau inhibisi (menghambat impuls saraf).
Berikut adalah langkah dalam transmisi kimiawi (chemical transmission) informasi dari satu neuron ke neuron lain. Pertama, neuron prasynaps atau neuron penyalur memproduksi atau mensintesis molekul neurotransmitter dari molekul yang lebih sederhana yang berasal dari makanan yang masuk atau sumber-sumber lain. Kedua, neurotransmitter yang telah dibuat tadi, disimpan dalam bouton dari sebuah neuron pengirim (neuron transmitter). Impuls saraf yang mencapai bouton memulai (initiates) suatu proses yang menyebabkan beberapa gelembung bergerak ke rongga synaps di mana kemudian neurotransmitter itu dilepaskan/dikeluarkan. Ketiga, neurotransmitter itu menyebar dengan cepat di sepanjang rongga synaps, lalu bergabung dengan molekul reseptor khusus yang ada pada membran dari neuron penerima atau neuron pascasynaps (postsynaptic neuron). Kombinasi dari neurotransmitter dan reseptor memulai perubahan pada neuron penerima yang menimbulkan perangsangan atau inhibisi tergantung pada jenis transmitter dan jenis reseptor. Keempat, neurotransmitter yang telah bergabung tadi dideaktivasikan secara cepat seperti halnya kelebihan neurotransmitter pada rongga synaps agar sel pasca synaps siap menerima informasi baru.
Beberapa neurotransmitter menurut Morgan (1986) adalah : acethylcholine, dopamine, norepinephrine, serotonin (5-hydroxystriptamine), GABA (gamma-amino butyric acid), glysine, glutamic acid, dan neuropeptida (a.l.endorphin), EAA (excitory amino acids) dan opioids (Olson, 1993). Jenis neurotransmitter yang diproduksi dan jenis reseptor menentukan reaksi pada neuron penerima eksitasi (perangsangan), aktivasi (pengaktifan), inhibisi (penekanan), atau dekativasi (penghentian aktivitas) (Morgan 1986). Obat-obat psikotropika atau zat psikoaktif adalah obat-obat yang mempengaruhi kerja neurotransmitter mempengaruhi kerja susunan saraf dengan mempengaruhi alur informasi melalui synaps, mempengaruhi pada tahapan lain selain synaps, atau mempengaruhi fungsi yang ada (Olson, 1993).

Tabel 5.1 Nama dan Lokasi Neurotransmitter (Morgan et. al., 1986)

Nama
Lokasi
Acetylcholine (Ach)
Sistem saraf dan banyak neuromuscular junctions.
Dopamine (DA)
Sistem saraf
Ephinephrine (E) (Adrenalin)
Terutama pada beberapaneuromuscular junctions, di beberapa sistem kelenjar adrenal
Norephinephine (NE) (Noraderenalin)
Terutama pada beberapa neuromuscular junctions, di beberapa sistem kelenjar adrenal
Serotonin or 5-hydroxytriptamine (5-HT)
Sistem saraf
Gamma-aminobutyric acid (GABA)
Sistem saraf
Glycine (Gly)
Sistem saraf
Glutamic acid
Sistem saraf
Neuropeptides (tidak semua)
Enkephalin
Endorphin
Vasopression
Oxytocin


Sistem saraf
Sistem saraf
Sistem saraf dan kelenjar ludah
Sistem saraf dan kelenjar ludah

Penyakit Jiwa, Neurotransmisi, dan Penggunaan Obat-obat Psikotropik

Menurut Olson (1993) penyakit atau gangguan jiwa adalah penyakit neurotransmisi atau penyaluran listrik kimiawi listrik antarneuron. Ia membedakannya ke dalam dua kelompok berdasarkan peristiwa yang menyebabkannya. Pertama, karena terlalu banyak neurotransmisi. kedua, terlalu sedikit neurotransmisi karena terlalu sedikitnya NT yang diikat oleh reseptor pascasinaps (postsynaptic receptor). Penyakit atau gangguan jiwa karena terlalu banyaknya neurotransmisi dapat disebabkan oleh dua hal. Pertama, neuron terlalu mudah terangsang (hyperexcitable). Kedua, terlalu banyaknya molekul neurotransmiter pada reseptor pascasinaps (postsynaptic receptor).
Obat psikotropika adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan perilaku. Obat psikotropika biasanya digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik. Obat narkotika adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Obat narkotika biasanya digunakan untuk analgesik (anti rasa sakit), antitusif (mengurangi batuk), antipasmodik (mengurangi rasa mulas atau mual) dan pramedikasi anestesi dalam praktik kedokteran (Maslim R, 1999).
Aa beberapa hal yang mungkin terjadi yang berkaitan dengan penggunaan obat psikotropika yang diberikan oleh dokter:
v  Ada kalanya pasien mengurangi dosis yang dianjurkan dengan alasan terganggu oleh rasa kantuk yang disebabkan otak.
v  Pemberian obat psikotropika haruslah sesuai dengan dosis tertentu dan memperhatikan efek samping yang mungkin terjadi.
v  Beberapa pasien atau keluarga pasien sangat percaya pada obat sehingga melalaikan psikoterapi.
v  Beberapa psien lain tidak mengkonsumsi obat psikotropika karena takut akan mengalami ketergantungan.

Gejala Sasaran (Target Symptoms) dalam Pengobatan Gangguan Jiwa

Berikut adalah beberapa gejala sasaran untuk beberapa gangguan jiwa.

Gangguan Depresi
1.    Simtom neurovegetatif (tidur, nafsu makan, dan lain-lain)
2.    Simtom psikomotor (ekspresi wajah, tangan, tubuh secara keseluruhan),
3.    Perubahan suasana hati (dari depresi menjadi irritable)
4.    Perubahan konsentrasi, atensi dan memori
5.    Pikiran depresif, rasa bersalah, ruminasi (terus menerus mengingat hal-hal tak enak dari masa lalu), kognisi yang terdistorsi
6.    Simtom psikotik

        Semua simtom ini menyebabkan kelemahan sosial (social impairment). Menurut penelitian, simtom yang paling cepat efek intervensinya adalah simtom neurovegetatif 10 sampai 14 hari. Untuk simtom psikomotor, dengan dosis yang tepat, perubahan dapat terjadi dalam 7 sampai 14 hari.
Gangguan Mania
1.  Kegiatan psikomotor yang tinggi (yang harus dikurangi)
2.  Pressure of speech, yaitu bicara cepat, mengalir dan penuh semangat, yang sulit dihentikan
3.  Kurang tidur

Gangguan Psikosis
        Gejala sasaran pada gangguan psikosis berhubungan dengan gejala/simtom arousal, afek, aktivitas psikomotor, pikiran (formal dan isi), dan penyesuaian sosial.
        Simtom arousal ditandai oleh agitasi, insomnia, kecemasan, excitement, confusion, kewaspadaan (vigilance) dan disorientasi. Simtom-simtom sasaran ini dapat hilang dalam waktu 3 sampai 5 hari.

Tabel 5.2 Daftar dan Dosis Obat Antidepresi
Antidepresi
Dosis yang biasa diberikan (mg/d)
Heterocyclics
·   Impramine
·   Amitriplyline
·   Desipramine
·   Nortriptyline
·   Doxepin
·   Protriptyline
·   Trimipramine
·   Clomipramine
·   Marprotiline
Monoamine Oxidase Inhibitors
·      Phenelzine
·      Isocarboxizid
·      Tranylcypromine
Miscellaneous
·      Amoxiphine
·      Trazodone
·      Bupropion
·      Fluoxetine
Mood Stabilizeers
·      Carbamazepine
·      Lithium carbonate
·      Valproic acid

150-300
150-300
150-300
50-150
150-300
15-60
150-300
75-400
150-200

45-90
30-60
30-50

150-450
150-300
200-450
10-40

600-1200
600-2400
750-300
Tabel 5.3 Efek Samping Obat Antidepresi
Nama Efek
Efek yang terjadi
Efek Anticholinergic
Mulut kering, penglihatan buram, sukar buang air besar (constipation), keraguan buang air kecil (ueibary hesitancy), keadaan bingung karena keracunan (toxic confusional state)
Efek Antihistamin
Ngantuk (sedation)
Aktivasi Serotonergic
Ngantuk (sedation)
Aktivasi Adrenergic
Tremor, keterangsangan (excitement), gemetaran (palpitation), bila tegak tekanan darah rendah (orthostatic hypotension), berat tubuh naik

        Simtom afektif meliputi agresivitas, kecemasan, depresi, membual (grandioustry), hostilitas, iritabilitas, negativisme, kecendrungan bunuh diri. Simtom afektif ada yang bertumpang tindih dengan simtom arousal dan dapat membaik dalam 1 sampai 3 minggu.
        Gangguan motorik yang sifatnya tingkah laku agitasi akan cepat hilang, namun katatonia, hiperaktivitas, stereotyping, mannerism sukar hilang.
        Simtom gangguan berpikir formal terbagi atas gangguan kelancaran berpikir (fluent thought disorder) dan simtom negatif. Gangguan kelancaran berpikir ialah asosiasi longgar, flight of ideas, pressure of speech and thought, dan circumciality. Simtom  simtom ini dapat berubah dengan perbaikan dalam gangguan afektif dan arousal, simtom negatif yakni isi pikiran miskin, blocking, sikap nonkomunikatif, cenderung tidak dapat berubah sedramatis yang tersebut di atas.
Gangguan isi pikiran meliputi delusi, halusinasi, pikiran paranoid dan bizar, perasaan tentang hal   hal yang tidak nyata. Bila akut dapat hilang dalam beberapa hari hingga minggu.
Obat  obat antipsikotik dan neuroleptik tidak disorder spesific, melainkan symptom specific. Kelemahan obat+obat ini adalah kemungkinan munculnya  meningkatnya simtom psikotik lain, sementara simtom target psikotik semula berhasil dikurangi.

Tabel 5.4 Daftar dan Dosis Obat Antipsikotik/Neuroleptik
Nama Obat
Ekuivalen
Chlorpromazine
Penggunaan
(mg)
Phenothiazines
·      Chlorpromazine
·      Thioridazine
·      Mesoridazine
·      Trifluperazine
·      Perphonazine
·      Fluphenazine
Thloxanthenes
·      Thiotixene
·      Chroprorhixene
Butyrophenones
·      Haloperidol
Olbenzoxazeplnes
·      Loxapine
·      Clozapine
Dihydroindolone
·      Molindone
Depot
·      Fluphenazine decanoate/month
·      Haloperidol decanoate/month

1
1
2
36
11
85

19
2

62

7
1-2

10

100-1000
100-800
50-400
5-60
8-64
2-60

2-120
100-600

2-100

20-160
50-900

20-200

12.5-25

50-200

Tabel 5.5 Efek Samping Obat Antipsikotik/Neuroleptik
Nama Efek
Efek yang Terjadi
Anticholinergic effects
Mulut kering, sulit buang air kecil dan besar, penglihatan buram, keadaan bingung karena keracunan (toxic confusional state)
Alpha-adrenergic blockade
Orthostatic hypotension, impotensi, gagal ejakulasi
Dopaminergic blockade
Sindrom extrapyramidal, galactorrhea amenonrrhea, imptinsi, tardive dykinesia, berat tubuh naik.
Antihistamine effects
Ngantuk (sedation)

Gangguan Cemas

        Gejala dan sindrom sasaran dari gangguan cemas adalah pengalaman subjektif yang diandai oleh keresahan/kekhawatiran (worry, apprehensive expectation, ancitipatory anxiety) juga ketegangan motorik, hiperaktivitas autonomik dan kewaspadaan (vigilance).
Gangguan cemas spesifik terdiri dari gangguan cemas umum, gangguan panik, fobia sederhana dan fobia sosial, serta gangguan obsesif kompulsif (obsessive compulsive disorder/OCD). Gangguan cemas umum merespons terhadap obat anticemas kelompok benzodiazepam.
Gangguan panik merespons terhadap kelompok heterocyclics (imipramine) dan monoamineoxidase inhibitor (a.l. phenelzine) dan kelompok benzodiazepine (a.l. alprazolan). Simtom sasaran pada gangguan panik antara lain pengalaman subyektif bahwa dia akan mati, mendapat serangan jantung. Simtom lain adalah perangsangan autonomik. Misalnya tachycardia (detak jantung menjadi cepat), napas cepat (tachipnea), dan tremor.
Fobia sederhana dan fobia sosial kadang-kadang mirip agoraphobia (takut di tempat terbuka), kadang mirip gangguan performance. Yang tipikal ialah demam panggung. Simtom gangguan ini merespons terhadap beta-blocker (propanol) untuk menurunkan autonomic-arousal.
Obsessive compulsive disorder merespons terhadap kelompok heterocyclic clomipramine dan fluoxetine setelah beberapa minggu hingga bilan kedua. Dianjurkan bahwa untuk gangguan cemas juga dilakukan terapi tingkah laku antara lain exposure, cognitive behavior therapy.
Tabel 5.6. Daftar Obat Anticemas dan Dosisnya
Antideprest
Dosis yang diberikan (mg/d)
Benzodiazepines
·      Chlordiazepoxide
·      Diazepam
·      Chlorzepare
·      Halazepam
·      Prazepam
·      Lorazepam
·      Oxazepam
·      Alprazolam
Barbiturates
·      Amobarbital
·      Pentobarbital
·      Phenobarbital
Beta-blockers
·      Propanolol
·      Atenoid
Antihistamines
·      Hydroxyzines
·      Diphendyraminre

15-200
6-40
15-60
60-160
20-60
1-6
45-120
1-6

60-150
90-120
30-120

60-240
50-100

75-400
50-300
Efek Samping Obat Psikotropika

Efek samping obat psikotropika bermacam-macam, antara lain terjadinya hipotensi ortostatik yakni tekanan darah turun ketika seorang dalam potensi berdiri. Ada juga efek samping berupa gejala neurologik, seperti tremor (gemetar), parkinsonisme (gejala penyakit parkinson, yakni langkah kecil-kecil, posisi badan kaku).  Dyskinensia (gangguan pengendalian gerakan) antara lain pada gerakan mata, lidah (sering keluar tidak terkendali), sukar menelan.
Efek samping lain adalah gangguan autonomik vegetatif atau hormonal, seperti meengantuk, lelah, mulut kering tachycardia (detak jantung menjadi cepat) sukar kencing, konstipasi (sukar buang air besar), gangguan menstruasi, perasaan mabuk, penurunan potensi seks. Ada juga efek samping berupa gejala psikiatrik, misalnya menjadi hipomanik (gembira berlebihan), atau terjadinya sindroma otak organik akut. Efek samping lainnya ialah: alergi, berat badan naik, dan ikterus (badan menjadi kuning) (Maramis, 1994)

Pengelompokkan Obat Psikotropika

Maramis mengelompokkan obat psikotropik dalam 4 kelompok:

1.  Penenang (tranquilizer). Kelompok obat ini mempunyai efek anticemas, antitegang, dan antiagitasi.
2.  Neuroleptik (melumpuhkan saraf). Dulu ini dinamakan major tranquilizers. Memiliki efek antischizophrenia, anti-psikosa, dan juga anti-cemas, anti-tegang dan antiagitasi.
3.  Anti-depresan. Terdiri dari dua kelompok, kelompok timoleptika dan thimeretika. Kelompok pertama menurunkan depresi dan juga menimbulkan efek anti-cemas, anti-tegang dan anti-agitasi. Kelompok kedua mengurangi depresi dan mengaktivasi dan menghilangkan hambatan.
4.  Psikomimetika (meniru psikosis). Efek yang ditimbulkan adalah gejala psikotik yang reversibel. Contohnya, LSD dan Mescalin.


1 komentar: